Bayangkan ini: Guru yang tadi pagi mengajarkan anak kamu soal integritas dan masa depan, sore harinya harus buru-buru ganti seragam jadi jaket hijau ojek online atau malah angkut-angkut barang jadi buruh bangunan. Bukan karena mereka kurang kerjaan, tapi karena isi dompetnya memang lagi sekarat. Ini bukan skenario film drama, tapi realita pahit yang lagi dialami banyak guru ASN PPPK (Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja) kita saat ini.
Baru-baru ini, kabar soal guru PPPK yang cuma digaji 50 ribu sampai 500 ribu per bulan meledak di media sosial. Angka ini rasanya lebih mirip uang jajan anak SD daripada upah profesional yang sudah mengabdi bertahun-tahun. Pertanyaannya, kok bisa pemerintah sanggup menganggarkan puluhan triliun buat program Makan Bergizi Gratis (MBG), tapi buat bayar layak orang yang mendidik anak-anak kita malah kayak pelit banget?
Gaji 50 Ribu Sebulan: Ini Penghinaan, Bukan Penghasilan
Kita harus jujur-jujuran di sini. Di zaman sekarang, uang 50 ribu dapet apa sih? Buat beli bensin motor seminggu saja mungkin kurang, apalagi buat makan sekeluarga. Koordinator Nasional Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) sudah kasih peringatan keras soal ini. Banyak guru PPPK paruh waktu yang nasibnya terkatung-katung dengan bayaran yang nggak masuk akal.
Masalahnya bukan cuma soal angka, tapi soal kepastian. Status PPPK yang awalnya dijanjikan sebagai solusi buat guru honorer, ternyata malah jadi jebakan Batman buat sebagian orang. Mereka terjebak dalam sistem di mana tanggung jawabnya besar, tapi haknya dipangkas habis-habisan dengan dalih keterbatasan anggaran daerah atau pergeseran prioritas nasional.
Kenapa Guru Terpaksa Ambil Pekerjaan Sampingan?
Kalau kamu tanya kenapa mereka sampai mau jadi ojol atau buruh, jawabannya simpel: Bertahan hidup. Guru juga manusia yang punya cicilan, punya anak yang butuh susu, dan punya perut yang harus diisi. Berikut adalah beberapa pekerjaan sampingan yang terpaksa diambil demi menambal lubang di dapur:
- Ojek Online (Ojol): Ini pilihan paling favorit karena jam kerjanya fleksibel. Begitu bel pulang sekolah bunyi, mereka langsung ‘narik’ sampai tengah malam.
- Buruh Kasar: Beberapa guru di daerah bahkan tidak ragu menjadi buruh bangunan atau buruh tani saat musim panen tiba.
- Guru Les Privat: Walaupun masih relevan dengan profesi, bayarannya seringkali tidak seberapa dan sangat melelahkan karena harus mengajar lagi setelah seharian di sekolah.
- Jualan Online: Dari jualan pulsa sampai jadi reseller daster, apa pun dilakukan asal ada cuan masuk.
Dilema Anggaran: Makan Bergizi Gratis vs Kesejahteraan Guru
Sekarang kita masuk ke bagian yang agak sensitif: Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Secara ide, ini bagus banget. Siapa sih yang nggak mau anak-anak kita sehat dan pintar? Masalahnya muncul ketika anggaran fantastis yang kabarnya mencapai Rp71 triliun ini dianggap ‘memakan’ jatah anggaran lain, termasuk untuk kesejahteraan guru.
Ada ketakutan nyata di kalangan pendidik bahwa anggaran pendidikan yang terbatas malah dialihkan untuk membiayai makan siang. Ini kayak kamu punya uang pas-pasan buat bayar sekolah anak, tapi malah dipakai buat beli makanan mewah satu kali makan. Kenyang sih, tapi masa depannya gimana?
Perbandingan Ekspektasi vs Realita Guru PPPK
Biar lebih jelas betapa jauhnya jarak antara janji pemerintah dan kenyataan di lapangan, coba deh intip tabel perbandingan di bawah ini:
| Kriteria | Ekspektasi (Janji Pemerintah) | Realita di Lapangan |
|---|---|---|
| Gaji Pokok | Sesuai standar ASN dan layak hidup | Ada yang cuma terima Rp50.000 – Rp500.000 |
| Tunjangan | Diberikan penuh untuk kesejahteraan | Seringkali dipotong atau malah tidak ada sama sekali |
| Beban Kerja | Fokus pada mendidik dan administrasi | Mendidik plus mikir cara cari uang tambahan |
| Status Psikologis | Bangga dan dihargai sebagai abdi negara | Merasa rendah diri karena harus kerja serabutan |
Dampak Domino: Guru Capek, Murid Jadi Korban
Jangan pikir masalah ini cuma urusan perut guru saja. Ini masalah kita semua. Kalau guru masuk kelas dalam keadaan kurang tidur karena habis narik ojol sampai jam 2 pagi, kira-kira gimana kualitas mengajarnya? Pasti nggak maksimal. Guru yang stres karena mikirin utang nggak akan bisa memberikan energi positif buat murid-muridnya.
Kita sedang mempertaruhkan kualitas generasi masa depan demi penghematan anggaran yang salah sasaran. Pendidikan itu investasi jangka panjang, dan investasi paling penting di dalamnya bukan cuma gedung sekolah atau laptop mahal, tapi manusianya—yaitu guru.
Kenapa Kita Nggak Boleh Cuek?
Mungkin kamu mikir, “Ah, itu kan urusan pemerintah, bukan urusan gue.” Tapi coba pikir lagi:
- Kualitas Pendidikan: Anak atau keponakan kamu diajar oleh orang-orang yang sedang merasa dihina oleh sistem. Motivasi mengajar mereka pasti drop.
- Krisisi Profesi: Kalau jadi guru terus-terusan dianggap sebagai jalan menuju kemiskinan, siapa lagi anak muda pintar yang mau jadi guru? Kita bakal krisis tenaga pendidik berkualitas.
- Ketimpangan Sosial: Guru yang terpaksa nyambi jadi buruh menunjukkan bahwa struktur sosial kita sedang sakit. Profesi mulia kok malah dipinggirkan.
Apa yang Harus Dilakukan Sekarang?
Pemerintah nggak bisa terus-terusan pakai alasan “anggaran terbatas” sementara mereka bisa menemukan uang untuk program-program mercusuar lainnya. Harus ada re-evaluasi total soal distribusi anggaran pendidikan. Jangan sampai program Makan Bergizi Gratis malah bikin perut gurunya keroncongan.
Kesejahteraan guru harus jadi prioritas utama sebelum kita bicara soal inovasi pendidikan lainnya. Tanpa guru yang sejahtera, kurikulum secanggih apa pun nggak akan berguna. Kita butuh aksi nyata, bukan cuma janji-janji manis saat kampanye atau seremoni hari guru.
Jadi, menurut kamu, apakah adil mengalokasikan triliunan rupiah buat makan gratis sementara orang yang menyuapi ilmu ke anak-anak kita malah harus nyambi jadi buruh kasar buat beli beras? Ini saatnya kita bersuara lebih keras buat mereka yang selama ini sudah terlalu banyak diam dan bersabar.

